Langsung ke konten utama

Rabu, 8 Agustus 2018





Sulit aku merangkai kata menjelaskan perasaan-perasaan ini. Gelisah, tak sabar, letih, juga jengkel.

Akhirnya, aku memilih diam. Menelan kembali penat yang harus ku olah sendiri. Sudah beberapa hari ini, setelah kepulanganku dari Kenteng yang sejuk dan penuh canda tawa dengan teman KKN, aku kembali pada rutinitas kampus, HMPS dan wajah-wajah yang membosankan itu lagi.

Tak sesederhana tanggung jawab akademik atau kegiatan orginisasi saja. Penat ini memuncak sampai ke ubun-ubun. Aku ingin bebas, aku ingin berkelana.

Sementara, perjalanan 4 bulan harus dihadapi. Berat dan membosankan.

Aku ditelfon pukul 12.00, mendadak. Tak terlalu lama. Hanya sekedar tukar cerita tentang kegiatan hari ini. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku. Aku ingin sekali mengadu.

Perbincangan kami terasa hambar, meski aku tahu ia juga menanggkap ada sesuatu yang salah.

Ketir dalam hatiku, suara itu mengundang perasaan melankolis, ia adalah satu dari alasan aku menganggap dunia sebagai tempat yang menantang. 

Begitu telfon ditutup, aku yakin ia juga ikut meraskan kegelisahan yang sama. 

Ada jiwa Martin di dalam diri Jati, begitu juga sebaliknya. Setelah telfon singkat itu, air mata membasahi pipiku, aku tak tahu ntah menangisi apa.


 Selang beberapa menit, pesan  Whatsapp  masuk "Ini, Hey tonight, lagu yang buat semngat." 

Ia ingin aku selalu bergembira.


12:33
di kamar kost!
Hari ini aku tak ada agenda kemana-mana. 

download.jpg

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teak

Growing as a fighter Shaped to be an eunoia Blessed by the universe Words are prayer Everytime you call my name, You pray for me, As strong as a steel Shaped to be an eunoia Call me as a teak       pict source : tumblr 

Rumah

Ketika malam rumah kita seperti kunang-kunang Cahaya kuning yang sedikit redup, menyala sendiri di tengah belantara malam Tetangga kita hanyalah pepohonan, padi-padi dan orang-orangan sawah Ada bagian dari rumah kita yang terbuka lebar Sehingga kita bisa menontoni indahnya semesta tanpa perlu pembatas Ketika bintang lagi ramai-ramainya Kita akan tiduran dan tertawa bersama sambil berpelukan Waktu bulan lagi bulat-bulatnya dan sepi bintang Kita duduk bersebelahan,aku menyandarkan kepalaku di pundakmu Ketika matahari sedang terik-teriknya Aku berkeliling sambil menenteng keranjang kayu Aku senang berburu buah strawberry di kebun belakang rumah Sedangkan kau sibuk dengan kanvasmu yang menghadap kearah pohon tanjung Ketika mulai sore, aku menyandarkan tubuhku di batang pohon tanjung Kemudian kau menghampiri dan meletakkan kepalamu di pangkuanku Sinar matahari tidak terlalu terik lagi aku mengeluarkan stawberry tadi dari keranjang kayuku Aku menyuapkannya satu perstu buah strowbery sebeg...

A Good Daughter

A Good Daughter Jati Theresia Moranca Siregar My birth was their prayer . Vat er sa id I was a D oyenne, Mutter s aid I was a Lilium Casa Blanca . Mutter was a beautiful soul that watered me to be a good lady. She always took good care my hair before I got sleep and hug ed me warmly . She taught me how to be grateful even though we never had a salmon as our lunch or turkey as our diner.  Vater was a knight that order ed me to be a strong as steel. He t aught me to dance in the rain and scream ed against the sound of thunder. I was a free man, he s aid . I gr e w like a flower that was treating with different types of fertilizers, I absorb ed that all and happy to ha d been treated. I knew they love d me and I love d them so much more. My age was already 25 years old, and now we were 990.5 km apart, so here I grew as a flower that they asked. I used my lipstick and inlaid a power on my face, I stopped when I saw darkness around my eyes . “ ...